Pages

Kamis, 20 Desember 2012

Mengapung dengan Sempurna (Sebuah refleksi tentang harapan kecil)

            Telah lebih dari dua bulan sejak saya memutuskan  untuk menekuni diri dan duduk di tempat ini, tempat yang dikelilingi oleh orang-orang besar dan berpengalaman di bidang jurnalistik.  Mereka yang dengan suka rela mentranfer ilmunya untuk kami, anak-anak baru dalam ranah menulis dan berberita. Itulah ia BP2M. Banyak hal yang saya dapatkan, teman-teman baru, pengetahuan, teknik berberita dan hal-hal lain berkaitan dengan menulis   yang dibingkai lewat pelatihan. 

Seperti ada di padang tandus, dua bulan itu dirasa masih amat kurang bagi saya yang seolah haus akan bekal pengetahuan untuk menulis. Di sela pelatihan tersebut, jujur saya merasa amat malu dengan bolam yang saya miiki. Bolam yang hanya dapat menyala tanpa bisa menerangi, sama halnya dengan saya yang hanya dapat bicara tanpa bisa mengaplikasikan, dengan kata lain praktek saya masih nol besar bahkan dikatakan jelek pun belum.

            Ternyata sebegitu kurangnya saya dalam hal ini, padahal tulis menulis adalah salah satu bidang yang selama ini termatrum dalam otak saya, lantas apa yang salah denagn diri saya? Benarkah saya tak berbakat dalam bidang ini mungkin saya salah dalam mengenal diri saya sendiri? Pertanyaan tersebut terus saja menempel dalam pikir hingga kini. Boleh jadi pertanyaan bodoh tersebut akan terus menghantui pikir hingga nanti ketika tidur, bangun atau bahkaan besuk hari-hari selanjutnya.           
Beberapa kali pikir, otak, dan nurani saya putar,  apa yang salah dengan saya, mungkinkah terjadi arus pendek dalam otak atau mungkin fungsinya sudah tak bisa dijalankan? Sedikit demi sedikit pertanyaan saya terurai dan mulai terbuka lewat intropeksi bahwa selama ini intensitas menulis saya masih jauh dari kata kurang. Bagaimana tidak kurang, dalam satu minggu saya hanya beratih menulis kira-kira 2 sampai 3 topik, itu pun juga  tidak semua yang saya tulis selesai dengan tuntas, belum lagi tentang kualitas isinya. 

            Teringat kembali pepatah Jawa Kuna yang  diajarkan oleh salah seorang guru ketika saya masih duduk pada bangku sekolah dasar,   yang menyatakan bahwa bisa amerga kulina, lan kulina amerga dikulinakno. Bagaimana mungkin kita bisa jika berlatih pun kita tak mau.  Semuanya butuh proses dan pengorbanan panjang. Layaknya sebuah padi,  mulai dari pertama kali bibitnya dijatuhkan ke tanah, tumbuh hingga proses siap dituai saja perlu waktu 4 hingga 6 bulan. Apalagi menulis, tak seorang pun yang bisa dengan instan menghasilkan tulisan yang berkualitas.

Yah mungkin ini hanya bagian kecil dari drama kehidupan saya. Drama tentang pencarian jati diri, mimpi, dan bakat yang coba disinergikan. Dan inilah salah satu pembelajaran hidup lagi, bahwa kadang biarkan saja ia mengalir karena ia bukan hanya meminta, tapi juga memberi. Lalu hidup pun akan kembali memberi kita hal-hal yang tak terduga sebagai imbalannya. Baik atau buruk, itu adalah pemberian yang memberikan makna bagi kita.
Teringat pula pesan Andrea Hirata dalam novelnya Laskar Pelangi yang bunyinya kurang lebih seperti ini : ”Jika setiap orang tau dengan pasti apa bakatnya maka itu adalah utopia, sayangnya utopia tak ada dalam dunia nyata. Bakat tidak seperti alergi dan ia tidak otomatis timbul seperti jerawat, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan”. Semoga saja saya bisa benar-benar mengapung dalam keadaan sempurna.

Semarang, 19 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar