Pages

Selasa, 19 Maret 2013

Masyarakat Pemenang Globalisasi


Kata yang paling banyak dilontarkan, diucapkan, ditulis, atau dikutip sekarang ini barangkali adalah kata globalisasi. Dalam waktu 0.09 detik saja mesin pencari kata Google berhasil menemukan sekitar 6.500.000 kata globalisasi yang bertebaran di dunia maya. Hal itu menunjukkan bahwa kata globalisasi cukup laris dan memasuki kesadaran begitu banyak orang. Artinya, sadar tidak sadar manusia di dunia yang memasuki proses globalisasi jumlahnya bisa puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kali lipat dari angka tersebut.
Globalisasi ditandai dengan keterhubungan sejagad mulai dari transfer manusia, ide, model, produk, informasi tekhnologi bahkan sampai pada taraf dominasi yang kuat atas yang lemah, hegomoni, penyeragaman gaya hidup yang kemudian menjadi matra dan skala yang biasa dan rutin terjadi. Tidak adanya sekat-sekat itulah yang telah melahirkan bentuk-bentuk penjajahan baru yaitu penjajahan budaya, yang sulit diperangi karena batas-batas ruang budaya begitu samar.
Dapat dipastikan bahwa seluruh masyarakat dunia mengalami gejala ini. Lalu, mengapa masyarakat Jepang, Korea, Cina, India dan beberapa negara lainya di Amerika Latin atau Afrika bisa bertahan terhadap gempuran globalisasi dan justru potensial menjadi pemenang globalisasi? Mereka memiliki tanda atau ciri khas tertentu, meliputi: huruf, bahasa, adat istiadat, seni pertunjukan, kuliner, sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, kerajianan, bahkan beladiri, dan kesemuanya itu milik meraka sendiri. Hal-hal itulah yang menjadi penangkis efektif menghadapi serangan rudal-rudal budaya dari penjuru dunia yang dimotori Eropa dan Amerika. Bahkan dengan metode transformasi budaya mereka selalu mampu bangkit untuk mempengaruhi dunia dengan apa yang mereka miliki.
Sekarang mari berhitung dan melihat potensi Indonesia. Sebenarnya, Indonesia juga tidak kalah dengan negara-negara tersebut. Indonesia memiliki tujuh “pusaka budaya” bertuah yang dapat menjadikan kita semua sebagai pemenang globalisasi. Indonesia memiliki lebih dari enam tulisan khas non latin, memiliki puluhan bahasa daerah dengan ratusan dialeg, memiliki puluhan adat istiadat dan pertunjukan yang khas, memiliki ratusan atau bahkan ribuan resep kuliner, sistem pendidikan yang khas (semisal padepokan, pesantren  atau sanggar), ratusan sentra kerajinan dengan motif etnik yang jumlahnya bahkan mencapai ribuan, dan memiliki ratusan aliran beladiri baik yang mempergunakan tenaga luar maupun tenaga dalam. Kalau semua dipelihara, dihargai dan dikembangkan dengan menggunakan metode transformasi, akan ada harapan kita sebentar lagi menjadi pemenang globalisasi.
Dengan demikian, kehadiran globalisasi justru menginspirasi kita untuk menggarap kekayaan budaya yang jumlahnya amat banyak, tidak hanya sebagai pengekor yang seolah tanpa kepribadian. Kita dapat mengolahnya menjadi produk budaya yang bermutu tinggi untuk kemudian kita salurkan atau kita tembakkan ke dunia global.
Globalisasi pun tidak hanya sekedar memepengaruhi kita, tetapi kitalah yang justru memepengaruhi proses globalisasi. Bahasa Avartarnya, kita bisa menjadi pengendali semua energi budaya di muka bumi. Itulah makna menjadi pemenang di dunia global. Semoga.


Aini Machmudah
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa 2011
Universitas Negeri Semarang