Pages

Jumat, 10 Agustus 2012

Gambaran Sudut Jalan


Aini Machmudah
Bocah-bocah kecil duduk dan berjalan
Berjejer dibawah terik
Menikmati seteguk air basah
Meredam kerutan wajah
Bila bibir memucat, tersungging tipis.
           
            Bocah-bocah kecil berhambur
            Bersama asap hitam, merajam mengepul
            Di jalan nan tua bertepi
            Demi untuk sesuap nasi

                                    Siapakah yang salah?
                                    Bocah-bocah kecil tak bersalah
                                    Mengalah, tanpa rasa kalah
                                    Lelah, namun tak mau menyerah
                                    Menukik, namun tak jua berbelok
                                    Tersakiti, namun hanya diam
                                    Diam dalam redam.

Rembang, 29 juli 2012

Teruntuk Sosok Putuh Itu


          Teriknya siang serasa begitu dingin saat terfikir sosok itu, hawa panas dengan tiupan angin bercampur debu kering seolah merajam hati yang terus saja tak bisa berhenti berpaling meninggalkan jejak kakinya yang kemarin tepat disini meninggalkan bekas yang begitu dalam. Semua terasa segar namun pahit saat ditelan. Ditengah riukan  itu, Ruang, waktu terus saja berlalu tanpa tahu kepastian kapan kan bertepi. Rasa yang terus saja berusaha memojokkan hidupku yang mencoba ikut berlari beradu kecepatan dengan jam pasir disebrang. Sosok itu kenapa tak jua terlupa olehku? Wajah tenang semburat kedamaian, bibir yang terus membawa pesan kepandaian, mata yang membawa pancaran ketulusan dan segala tentangnya, semua terasa begitu nyata, indah dan bersahaja. Meruntuhkan deretan dinding kokoh yang selama ini menutup hati.

            Serasa sesak, sesak dan lebih sesak lagi didada saat jiwa yang rapuh ini meronta mengharap kedatangannya, entah kapan. Bukan rindu yang dipaksa tapi benar benar harapan dan mimpi yang diusahakan dan coba diwujudkan. Panas didalam begitu menyakitkan menusuk tepat disumsum tulang dada yang renta dan tak bersuara.    

            Mengapa aku seperti ini, memandang kedepan namun tak satupun yang nampak indah oleh ekor mataku, semua hitam kelam kecuali tubuhnya yang putih memantulkan cahaya harapan yang begitu hangat membelai setiap nafas rasa yang kupunya. Namun itu semua hanya mimpi karna saat aku terbangun tak jua kutemukan sosok putuh itu dimataku. Ia lenyap seiring berlalunya mimpi yang tertidur kala aku terbangun.

            “ah biarlah untuk saat ini bunga itu tumbuh, kelak seiring berjalannya waktu tanpa air tanpa pupuk ia akan gugur dan mati dengan sendirinya terseret panasnya udara” Pikirku berulang kali. Namun waktu berjalan, bergantinya musim hingga kini sudah ke-3 bulannya sosok putih yang mencuri barang berhargaku itu berlalu pergi, tak jua bunga itu layu namun semakin bersemi menampakan kuncupnya. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan bunga itu sekarang? Bagaimana cara agar ia layu dan mati, mengahkirinya? Mengahkiri rasa yang menggeliat hebat dan terus saja memberontak melukai hati dengan duri di tubuh.
           
Teruntuk sosok putuh itu, tolong kembalikan aku telanjang, seperti sebelum cahaya, agar aku bisa menjawab.

Rembang, 05 Agust 2012

Mereka, Orang-orang Berdasi


Aini Machmudah
Di setiap sudut aku melihat
Di mataku sendiri
Di matamu
Di mata kalian
Di mati mereka
Dan di mata sana.

            Mulut-mulut bual
            Dengan bau menyengat
            Keluar dari mereka, orang-orang berdasi
            Di televisi.

                        Dengan Percikan menyengat
                        Mereka, orang-orang berdasi
                        Melempar krikil kecil berlimpah
                        Kepada para arwah.

Di kolong sudut meja
Mereka, Orang-orang berdasi
Mengatur rumah tangga negara
Sudut meja tempat tidur
Bermimpi memperoleh dolaran
Hasil mencabik kehidupan.

                                    Ditangan mereka, Orang-orang berdasi
                                    Menabur benih janji menyulam harta
                                    Kepada mereka, kutu-kutu kecil, kiranya.

Rembang, 29 Juli 2012

Tanda dan Sesal


Aini Machmudah
Dentingan jam
Berlalu lalang merangkak
Tak taunya kereta telah berpacu
Melenggang mesra dalam barat nestapa
Sementara aku,
Hanya diam dengan mulut menganga

                                    Deretan hari masih berpacu
                                    Layaknya pesawat di bandara
                                    Tak taunya telah mengepahkan sayap diudara
                                    Beradu kasih membelah mega
                                    Sementara aku,
                                    Hanya diam tak bernyawa.

            Revolusi tahun terus berputar
            Memecah malam menyingsing siang
            Beradu, membawa kenangan
            Mengguncang simbol, mencari tanda
            Sementara aku,
            Hanya diam dalam sesal.

Rembang, 30 Juli 2012

Selasa, 07 Agustus 2012

Tidur untuk Malam


Kemarin masih ku dengar suaramu
Ditengah gigilan ion-ion tubuh
Memercikkan belai lembut dari sisa hujan
Yang nyata–nyata deras namun tak berbekas
Kemarin.
                       
                        Kemarin masih juga terdengar olehku
                        Hembusan nafas halus
                        Keluar dari wajah redup itu, sayang
                        Senyum dan tawa renyah
                        Bersanding di tikungan sebelah
                        Dekat rel kreta berkolah

                                                Namun, kini
                                                Tak lagi terdengar olehku, sayang
                                                Kala malam merenggut candamu
                                                Menyisihkan senyum manis untuk esok
                                                Lembaran episode singkat

            Selamat tidur adikku
            Nikamtilah malammu.

Rembang, 29 Juli 2012