Pages

Sabtu, 04 Mei 2013

Anggota DPR RI


Ana salah sawijine wong desa kapilih dadi anggota DPR RI, pawongan kasebut sowan menyang daleme Pak Kyai ing kalurahane kanthi nitih mobil mewah, supir lan ajudane.

Anggota DPR RI          : Pak kyai hebat lan misuwur pundi kula kaliyan pak Lurah?
Pak Kyai                       : Nggih jelas panjenengan ta pak, gajine mawon setunggal banding setunggal ewu
Anggota DPR RI          : (Esem bombong, banjur takon maneh) menawi kaliyan Bupati Pak Kyai?
Pak Kyai                       : Taksih hebat DPR RI, anggadhahi kewenangan nentokake anggaran.
Anggota DPR RI        : Menawi kaliyan mentri Kyai?
Pak Kyai                       : Nggih taksih hebat DPR RI, mentri ajrih kaliyan DPR RI.
Anggota DPR RI       : Inggih, leres-leres pak, (Saya bungah lan bacutake pitakone) menawi kaliyan presiden, Kyai?
Pak Kyai                     : Inggih DPR RI ta, Presiden nggih ajrih kaliyan DPR RI.
Anggota DPR RI       : Lha menawi kaliyan Kanjeng Nabi, dos pundi pak Kyai?
Pak Kyai                     : (Meneng rada suwe, mikir banjut mangsuli) yaa.. taksih hebat DPR RI.
Anggota DRP RI        : Kok saged? Wah Pak Kyai onten-onten mawon.
Pak Kyai                     : Kanjeng Nabi taksih ajrih kaliyan Gusti Penegeran! Dene DPR RI sampun boten ajrih kaliyan Gusti Pengeran!!!

Kemarin Saat Itu

Ketika buku kubuka
Di dalamnya ada deretan nama
namun tak temukan, namun tak dapati
namamu di sana.

            Kemarin saat itu
            Tidak adakah beludru sisa makan itu
            Hingga sang  puting pun hanya terdiam
            Melihat redupnya wajah sayupmu
            Ditelan warna hitam putih bergaris
            Yang dikenakan saat dulu dan lalu.

Kemarin saat itu
Kenapa tak ada swaramu
Yang kuharap mengetikkan nomer untukku
Untuk sedikat berbagi singkat lewat pesan
Saat sela hari ini atau besuk kali
Hanya asik dengan obrol pendek menyiksa
Yang terbawa higgga kini senja

Kemarin saat-saat itu
Merindu tanpa kemelut tuk sedikit berharap
Dari deretaan kursi yang dipenuhi
Lurus berjajar kosong tak isi
seperti tiyang yang hanya berdiri
Lurus ke atas, tak tersokong
Lalu tak tahu kapan akan tumbang


Semarang, 6 Desember 2012

Quote


Lama-lama orang males romantis karena entar disebut galau.
Males peduli takut disebut kepo.
Males mendetail takut dibilang rempong.
Males mengubah-ubah point of view dalam debat takut dibilang labil.
Juga, lama-lama generasi mendatang males berpendapat takut dikira curhat.

(Sujiwo Tejo - Move On dalam “Dalang Galau ngetwit”)

Kesaksian Sang Mata (Feature)


Dia adalah saksi dari Peristiwa 65, saat begitu banyak nyawa manusia dikorbankan dalam operasi sapu bersih, operasi pembantaian akibat pertikaian politik kekuasaan pada awal masa “Orde Baru”.

Oleh: Aini Machmudah

Sosok laki-laki setengah baya dengan rambut yang tidak lagi berwarna hitam, gigi yang tidak lagi lengkap, serta suara yang agak pelo termakan usia. Dia adalah Gunawan Budi Susanto, seorang  jurnalis, penulis, kritikus dan juga dosen yang lahir 52 tahun lalu di sebuah kampung di daerah Cepu, perbatasan antara Blora dan Bojonegoro, Jawa Timur. Puluhan puisi, cerpen, esai, kolom, artikel dan liputan ia tulis. Buku pertamanya berupa kumpulan kolom Kesaksian Kluprut, diterbitkan Yayasan Sastra Merdeka, Semarang, 1996.
Lewat sorot mata karismatik yang tajam namun menyimpan keteduhan, Pak Gunawan atau yang lebih akrab disapa Kang Putu akan mampu dengan mudah menghipnotis lawan bicaranya termasuk pula mahasiswa-mahasiswa program studi Sastra Jawa angkatan 2011, Fakultas Bahasa dan Seni  yang diajar langsung olehnya.
Namun siapa sangka di balik ketenangan yang tergores di wajah teduhnya. Kang Putu kecil pernah mengalami trauma psikologis yang mengejar-ngejar tidur malamnya. Saat itu awal tahun 1966, Air Begawan Solo yang melintas di sebuah kampung di daerah Cepu, Blora melebur dan berwarna kuning kecoklatan.
Di tepian Bengawan Solo, Kang Putu kecil terpaku menyaksikan begitu banyak sosok manusia yang mengapung di atas air. Banyak sekali sosok manusia, lelaki dan perempuan dengan tubuh komplet atau tidak. Tubuh-tubuh itu timbul-tenggelam  terseret arus air bengawan yang mengalir entah ke arah mana.
Hampir semua penduduk kampung yang menyaksikan hanya diam, berdiri terpaku di tanggul bengawan tanpa berbuat apa-apa. Mereka hanya berkerumun dan berbincang pelan, satu kata yang diingat Kang Putu kecil dari perbincangan saat itu, bahwa mereka, tubuh-tubuh terapung itu “Dibunuh”.
 Pada malam-malam gelap setelah itu, rasa takut memburu dalam tidurnya  menjadi mimpi-mimpi buruk yang mengerikan, berkali-kali pada malam yang tidak mampu ia hitung, Kang Putu kecil terbangun kaget mendengar gedoran pintu rumah, jendela, suara genting pecah dan teriakan-teriakan serak penuh amarah . “Bakar, bakar saja! Ayo, bakar!”.
“Pemerintahan saat itu dibangun di atas darah dan mayat-mayat manusia, bukan hanya anggota PKI tetapi juga kaum nasionalis, bahkan kaum agama.” Jelasnya saat bercerita kepada para mahasiswanya.
Kini, setelah puluhan tahun peristiwa mengerikan itu berlalu, bocah kecil yang telah kehilangan urat takut itu, menjadi sosok yang begitu menginspirasi, bukan hanya sebagai seorang jurnalis, penulis dan pengajar tetapi juga tempat menimba ilmu dan pengalaman hidup.
Trauma yang di alami oleh Kang Putu nampaknya benar-benar membuatnya menjadi manusia kritis yang peka terhadap kehidupan sosial, budaya dan bangsa yang semakin carut marut membumbung tinggi membelah nurani. Dan dibalik peristiwa 65 itulah, semoga fondasi yang lebih kukuh dapat dibangun untuk menata masa depan. Masa depan yang menghargai keberagaman tanpa hasrat saling meniadakan.

Menuju Cahaya


Oleh : Aini Machmudah

“Through Darkness to Light” melalui kegelapan menuju cahaya atau yang lebih kita kenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat itu tiba-tiba saja muncul di kepala bukan hanya karena bertepatan dengan Hari Kartini, tetapi juga karena proses move on diri dari mimpi panjang yang semakin tampak remang.
Malam itu saya duduk sendiri merenung, gambaran merah kuning, merah hijau, merah hitam, sampai merah abu-abu berkecamuk dalam pikir. Dahulu R.A Kartini meperjungkan perempuan menjadi ibu dan menjadi empu, sedangkan kini, saya berjuang bangkit menjadi salah satu dari kartini-kartini itu.  Jika Kartini berfikir optimis bahwa tradisi yang tak terpatahkan berabad-abad, tradisi yang melatakkan wanita dalam ranah tiga bencana “Kasur, Dapur dan Pupur” dapat terpatahkan, masak saya ndak bisa, padahal masalah yang kini saya hadapi tak sebesar itu, hanya berusaha bangkit dan kemudian berjalan kembali.
Gendhis, salah seorang sahabat saya tak kalah genthol menyuarakan aspirasinya untuk melihat saya masuk ke alam sadar “Hai-hai jangan sembunyi, memberontaklah wahai kartini-kartini” teriaknya memecah kendang telinga, membangunkan diri dari lamunan yang hampir saja membuat saya mengeluarkan sinyal-sinyal cengeng ke pupil dan konjungtivanya.
 “Kami akan menggoyah-goyahkan gedung feodalisme dengan segala tenaga kami. Dan bahkan seandainya hanya ada satu potong batu yang jatuh, kami akan menganggap hidup kami tidak sia-sia,” bisik Gendhis mesra, dekat dan semakin dekat hingga bibirnya menyentuh bagian luar dari telinga saya. “Tidak kah kamu malu dengan pemikiran Kartini pada saat itu, Sobat?” lanjut Gendhis. Saya hanya terdiam malu mendengar pertanyaan retorik yang dilontarkan Gendhis, memang semua suram  dan penuh dengan tanda hitam.
Seseorang pernah bilang kepada saya “Seperti gelas” mungkin memang benar lebih baik membiarkan gelas itu pecah, daripada mempertahankannya tetap utuh namun menyakiti diri. Toh dengan berduka, berkabung dan menyesal pun tak akan pernah mampu mengubah keadaan. Hanya bergerak, melangkah dan berbuatlah yang bisa menggantikan kedukaan itu menjadi kebahagiaan.
Ah semakin nglantur saja saya, tapi yang jelas dan pasti saat ini “Saya lebih dari siap untuk Move On”. Melalui kegelapan menuju cahaya, mari para kartini saatnya meluruskan pikir dan hati untuk selamatkan bumi!