Pages

Selasa, 07 Januari 2014

ANALISIS UNGKAPAN JAWA BERIDIOM NAMA HEWAN DALAM KAJIAN SEMANTIK


Abstrak
Nama                         : Aini Machmudah
Program Stidi              : Sastra Jawa
Judul                          : Analisis Ungkapan Jawa Beridiom Nama Hewan dalam Kajian Semantik.

Makalah ini berisi pemahaman mengenai ungkapan Jawa yang menggunakan idiom nama hewan dalan kajian semantik. Makna yang dikaji berupa makna kiasan yang  berupa makna refersensial dan makna target. Analisis yang digunakanberupa analisis kompenen hingga pada akhirnya dapat ditemukan makna dari setiap peribahasa dan ungkapan Jawa yang beridiom nama hewan.

Kata kunci:
Ungkapan Jawa, Idiom nama hewan, makna referensial, makna target.

1.1 Latar Belakang
 
        Makna merupakan penghubung bahasa dengan dunia luar. Ia hadir dalam benuk kontruksi sesuai dengan kesepakatan para pemakainya sehingga dapat saling dimengerti dan dipahami maksudnya.
        Setiap Individu dalam kehidupan masyarakat Jawa memeiliki kewajiban moral untuk menghormati tata kehidupan. Bahkan perilaku orang Jawa dengan menunjukkkan ekpresi diri dalam kehidupan sosial di masyarakat, yakni rasa marah, rasa kesal, rasa kecewa dunilai perilaku yang tidak sopan. Hal tersebut didukung pula oleh pernyataan Hildred Geertz yang menyatakan “Bahwa dalam sistem nilai Jawa tidak memberi  banyak peluang bagi ekpresi individual yang terbuka” (Mulder, 1983: 47)
            Secara sosial, setiap individu khususnya yang memegang teguh tatanan Jawa dilarang mengungkapkan perasaan, keinginannya dan kehendaknya secara langsung (to the point). Oleh karena itu, orang Jawa lebih sering bertindak secara pragmatik, baik ketika perprilaku maupun ketika bertutur kata. Dengan kepragmatikan itulah, terkadang orang terjebak dalam pencarian makna tersebut. Salah satunya dalam ungkapan Jawa yang memiliki makna kias.
            Ajaran budaya Jawa mengenai nilai-nilai kearifan dalam kehidupan banyak disampaikan melalui ungkapan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa dalam ungkapan Jawa terdapat adanya sitem tanda dan simbol budaya, sehingga maknanya dapat diinterprestasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan.
            Di dalam khasanah sastra Jawa, dikenal berbagai bentuk ungkapan yang meliputi paribasan, panyandra, pepindhan, isbat, saloka, atau bebasan, dan tembung entar. Ungkapan-ungkapan tersebut merupakan ungkapan tradisional yang diangkat dan ditemukan dalam karya sastra dan tradisi lisan yang menyiratkan realitas kehidupan faktual dan fenomena. Semua itu merupakan bentuk ungkapan yang berisi makna  kiasan dengan sarana kontruksi idiom, misalnya idiom nama hewan, tumbuhan, kota, manusia, dan sebagainya. Penggunaan idiom-idiom tersebut sebagai sarana penggambaran suatu keadaan.
            Pepatah Jawa “Asu gedhe menang kerahe” merupakan satu contoh dari sekian banyak ungkapan Jawa yang menggunakan idiom nama hewan. Ungkapan Asu gedhe menang kerahe, mengandung penjelassan bahwa orang yang memiliki pangkat tinggi pasti memiliki kuasa yang tinggi pula.
            Berawal dati itulah penulis hendak menganalisis peribahasa Jawa yang menggunakan idiom nama hewan yang secara lebih lanjut merupakan gambaran keadaan, baik realitas yang terjadi, sindiran, sarkasame, dan suatu pernyaataan yang paradoks dalam kajian semantik.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang, penelitian ini mengemukakan beberapa masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Ungkapan atau peribahasa Jawa apa saja yang mengunakan idiom hewan?
2. Apa makna yang disampaikan dalam peribahasa beridiom nama hewan tersebut?

1.3 Metode Analisis
            Metode yang digunakan oleh penulis dalam makalah ini adalah metode kualitatif yaitu menemukan makna secara deskritif. Dengan metode ini, akan dapat ditemukan makna dari kata yang terdapat dalam peribahasa baik makna referensial maupun makna pragmatik yang menyatakan keadaan, timdakan, maupun sifat manusia. Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini, antara lain:
    1.      Tahap penjaringan data, dilakukan dengan teknik pencatatan peribahasa Jawa dari berbagai literatur.
     2.      Penggolahan data, dilakukan dengan cara pengklasifikasian peribahasa Jawayang mengguanakan idiom berupa nama hewan.
    3.      Analisis data yang digunakan untuk mendapatkan konsep atau wacana (makna referensial maupun makna pragmatik) dari setiap peribahasa yang menggunakan idiom nama hewan.
     4.      Kesimpulan.

1.4 Analisis Data
     A.    Pengantar
          Bagian analisis ini bertujuan untuk menjawab masalah yang telah dikemukan sebelumnya mengenai ungkapan Jawa yang mengguanakan idiom nama hewan. Analisis kompenen merupakan metode untuk memecah sebuah unsur atas bagian-bagian yang lebih kecil. Untuk menemukan makana kata yang terdapat dalam pepatah Jawa. Diperlukan analisis kompenen makana. Analisis kompenen makna adalah pemyelidikan suatu makna kata dengan memecahnya menjadi kompenen-kompenen (Harimurti, 2008). Dalam penelitian ini analisis kompenen makna digunkan untuk  menemukan kompenen objek source (S) makna referensial dan target (T) serta relevansi makna antara kedua hal tersebut.

     B.     Ananlisis Ungkapan

1.        Ana Gula ana semut.
·         Makna referensial        : Ketika di suatu tempat ada gula, di sana akan ada semut yang mencari makan.
·         Makna target               : ‘papan sing akeh rejekine, mesthi akeh sing’ nekani. Ketika suatu tempat (daerah) memiliki potensi yang besar, maka di sana akan ada banyak pendatang untuk mencari rizeki.
2.        Asu arebut balung. ( paribasan )
·         Makna referensial        : Anjing yang saling berebut tulang
·         Makna target               : ‘pepadon rebutan prakara sepele’  saling berebut hal dan perkara yang sama sekali tidak ada gunanya.
3.        Asu belang kalung wang (paribasan)
·         Makna referensial        : anjing belang yang berkalung uang
·         Makna target               : ‘wong cilik (ora duwe pangkat) ananging sugih’ orang kecil yang tidak memiliki kedudukan akan tetapi hidup kaya dan sejahtera.
4.        Asu gedhe menang kerahe (parikan)
·         Makna referensial        : Anjing besar pasti menang saat berkelahi
·         Makna target               : ‘wong sing kuwat (dhuwur pangkate) mesthi menang lan gedhe panguwasane’ Ketika orang memiliki kedudukan yang tinggi maka ia juga akan memiliki kekuasaan yang tinggi pula.
5.      Asu marani gebuk
·         Makna referensial        : Anjing yang sengaja datang untuk dipukul
·         Makna target               : ‘njarak/sengaja marani bebaya’ orang yang sengaja mencari-cari dan melakukan hal yang berbahaya.
6.        Bebek mungsuh mliwis
·         Makna referensial        : Bebek melawan blibis
·         Makna target               : ‘wong pinter mungsuh wong sing padha pintere’ orang pandai yang saling berkompetisi melawan orang yang sama-sama pandai.
7.        Belo melu seton  
·         Makna referensial        : Anak kuda ikut merayakan malam minggu
·         Makna target               : ‘manut grubyuk ora ngerti karebe’ hanya sekadar ikut-ikutan namun tidak tahu esensinya.
8.        Cecak nguntal empyak (cagak)
·         Makna referensial        : seekor cicak yang mencoba menelan tiang.
·         Makna target               : ‘gegayuhan kang ora imbang karo kekuatane’ Seperti mencoba merealisasikan keinginan dan impian yang tidak sesuai dengan kemampuan. 

1.5 Penutup
Kesimpulan
          Ungkapan dan peribahasa Jawa baik yang berbentuk bebasan, parikan, paribasan, sanepa, saloka merupakan ungkapan yang menggambarkan keadaan manusia. Keadaan tersebut dapat berupa ajaran kehidupan manusia, fakta realaitas yang tidak biasa terjadi, sindiran, sarkasme, dan suatu kenyataan yang paradok. Keseluruhan itu disampaikan melalui sarana bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan.  Bahasa tersebut kemudian perlu dimaknai agar mampu dimengerti dan difamahami maksud dan isinya.
          Peribahasa Jawa sebagai bentuk ungkapan yang berisi makna  kiasan dengan sarana kontruksi idiom. Berikut ini idiom nama hewan yang sering digunakan dalam peribahas Jawa meliputi idiom : asu, kebo, jaran, iwak, belo, macan, kidang, yuyu, gajah, cecak, emprit, mliwis, welut, semut, bebek, kethek, pitik, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta, WJS. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij N.V.
Sudaryanto. 2001. Kamus Pepak Basa Jawa. Yogyakarta: Badan Pekerja Kongres Bahasa Jawa Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Yana, MH. 2010. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Absolut.
Rachmatullah, Asep. 2009. Falsafah Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Logung Pustaka.
         

Minggu, 05 Januari 2014

APA ITU DISLEKSIA?


Disleksia
            Disleksia berasal dari bahasa Yunani dyslexia, dys artinya tanpa, tidak adekuat atau kesulitan dan lexis/ lexia artinya kata atau bahasa. Disleksia adalah salah satu karakteristik kesulitan belajar pada anak yang memiliki masalah dalam bahasa tertulis, oral, ekspresif atau reseptif (lerner, 2000). Masalah yang muncul adalah anak mengalami kesulitan membaca, menulis, berbicara, dan mendengar. Disleksia dalah salah satu kelompok dalam kesulitan belajar spesifik. Disleksia bukanlah penyakit, disleksia tidak memiliki obat. Disleksia merupakan kesulitan belajar yang paling sering ditemukan dalam penelitian (Wener dan Karig, 2006).
            Banyak ahli yang mengemukakan pengertian disleksia antara lain:
a.       Disleksia merujuk pada kesuliatan membaca  baik itu penglihatan atau pendengaran. Intelegensinya normal, dan ketrampilan bahasanya sesuai. Kesulitan belajar bahasa tersebut kaibat faktor neorologis dan bukan disebabkan oleh faktor eksternal, misalnya lingkungan atau sebab-sebab sosial (Corsini dalam Imandala, 2009).
b.      Disleksia sebagai kesulitan mkembaca berat pada anak yang memeiliki kecerdasan normal dan bermotivasi cukup, berlatar budaya yang memamdai dan berkesempatan memperoleh pendidikan serta tidak bermasalah emosional (Guszak dalam Imandala, 2009)
c.       Disleksia adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari kompenen-kompenen kata dan kalimat, yang secara historis menunjukkan perkembangan bahasa yang lambat dan hampir selalu bermasalah dalam menulis dan mengeja serta kesulitan dalam mempelajari sistem representasional, misalnya berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. (Bryan & Bryan; Mercer dalam Imandala, 2009)
d.      Disleksia adalah bentuk kesuliatan belajar membaca menulis terutama belajar mengeja dengan benar dan mengungkapkan pikiran secara tertulis, memanfaatkan kesempatan bersekolah dengan normal serta tidak memperlihatkan keterbelakangan dalam mata pelajaran-mata pelajaran lainnya (Hornsby; Sodiq dalam Imandala 2009)

Diantara sekian banyak definisi disleksia di atas, ada kesepakan secara umum menegenai pengertian dan penjelasan disleksia yang dirumuskan ke dalam 4 bagian (Hynd dalam Lerner, 2000), yaitu:

a.       Disleksia memeiliki dasar biologis dan dikarenakan kondisi neurologis bawaan.
b.      Masalah disleksi bertahan sampai remaja dan dewasa.
c.       Disleksia mempunyai dimensi perseptual, kognitif dan bahasa.
d.      Disleksia mengarah pada kesuliatan di banyak area kehidupan sebagai individu dewasa.

1 Karakteristik Anak Disleksia

            Karakteristik anak disleksia mata bervariasi tergantung dari masalahnya ( Sodiq dalam Imandala, 2009). Meneurut Subini (2011), ciri-ciri anak yang mengalami disleksia adalah sebagi berikut:
a.       Inakurasi dalam membaca seperti membaca lambat kata demi kata jika dibandingkan dengan anak seusianya, intonasi suara turun naik tidak teratur.
b.      Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
c.       Sering terbalik dalam mengenali huruf dan kata, misalnya anatar “kuda” dengan “daku”.
d.      Sering mengulangi dan menebak kata-kata atau frase.
e.       Ketidak beraturan terhadap kata yang hanya sedikit perbedaannya, misalnya “buah” dan “bau”
f.       Keulitan dalam memahami apa yang dibaca, dalam arti tidak mengerti isi cerita atau teks yang dibacanya.
g.      Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata-kata.
h.      Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dalam memadukannya menjadi sebuah kata.
i.        Sulit mengeja secara benar. Bahkan mungkin akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.
j.        Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah dihalaman yang lain.
k.      Sering terbalik dalam menulis dan mengucapakan kata. Misalnya: “kucing duduk si atas kursi” menjadi “ kursi duduk di atas kucing”
l.        Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya: “ke”, “dari”, “dan”, “jadi”
m.    Lupa meletakkan titik an tanda-tanda baca yang lain.

Bentuk kesulitan membaca anak yang disleksia sebagai berikut (Subini, 2011):
a.       Melakukan penambahan dalam suku kata (addition), mislanya “batu” menjadi “baltu”.
b.      Menghilangkan huruf dalam satu kata (omisiion), misalnya “masak” menjadi “masa”.
c.       Membalikkan huruf, kata atau angka dengan arah terbalik kiri kanan (inversion/mirrorring), misalnya “dadu” manjadi “babu”.
d.      Membalikkan huruf, kata atau angka dengan arah terbalik atas bawah (reversal) mislanya “papa” menjadi “qaqa”.
e.       Mengganti huruf atau angka (substitution) misalnya “lupa” menjadi “luga”, “3” menjadi “8”.

Disleksia termasuk  salah satu karakteristik yang dimiliki oleh anak kesulitan belajar dan termasuk ke dalam kategori masalah prestasi akademis (Hallahan dan Kaufman dalam Mangunsong, 2009). Masalahnya dibagi ke dalam tiga aspek, aspek yang pertama adalah decoding tau mengalami kesulitan dalam mengubah bahasa tuliasan menjadi bahasa lisan, misalnya kesulitan dalam menyebutkan huruf-huruf yang membentuk kata topi, yaitu t, o, p dan i. Aspek yang kedua adalah kelancaran ( fluence atau reading fluence ), reading fluence adalah kemampuan untuk mengenali kata demi kata dengan cepat, membaca kalimat atau wacana yang lebih panjang dan dapat dengan mudah menghubungkannya. Kemampuan ini mengindikasikan bahwa anak mengerti materinya. Aspek yang ketiga adalah memahami arti bacaaan (comprehesion ).

2 Faktor Penyebab Biologi

            Penyebab disleksia dilihat dari konteks biologis, faktor-faktornya sebagai berikut:
a.       Faktor genetik atau keturunan, penelitian yang dilakukan oleh Grigorenko menghasilkan 20-65 % anak yang disleksia memiliki orang tua yang mengalami kesulitan membaca (Wenar & Kerig, 2006)
b.      Masalah dalam migrasi neuron/ saraf, penelitian oleh Simos menunjukkan bahwa anak disleksia memeiliki pola aktivitas yang berbeda dengan anak normal  , anak normal menggunakan hemisfer kanan (Wenar & Kerig, 2006). Ada juga kerusakan akibat hipoksi-iskemik saat prenatal di daerah parieto-temporo-oksipital yakni lobus-lobus dalam otak.
c.       Pengaruh hermonal prenatal seperti testosteron.



 2.2 Membaca dan Pemahaman Membaca

            Seorang ahli membaca, Steve Stahl ( Santrock, 2008) mengungkapkan ada tiga tujuan utama dalam intruksi membaca yakni (1) membantu anak mengenali kata-kata secara otomatis (2) memamhami teks bacaan, dan (3) menjadi termotivasi untuk membaca dan menghargai bacaan. Ketiga tujuan ini saling berkaitan. Jika anak tidak dapat mengenal kata-kata secara otomatis, maka anak-anak tidak dapat mengerti apa yang dibacanya. Jika anak tidak mengerti bacaan, maka anak tidak akan mungkin termotivasi untuk membacanya.
            Analisis terkini dari Rich mayer (dalam Santtrock, 2008) bahwa ada proses kognitif yang dilalui oleh anak untuk dapat membaca kata-kata yang tercetak, prosesnya adalah:
a.       Sadar akan unit suara dalam kata-kata, di mana terdiri dari “mengenal, menghasilkan, dan memanipulasi fonem”.
b.      Decoding word, artinya mengubah kata-kata yang tercetak dalam suara.
c.       Dapat mengakses arti kata, artinya dapat menemukan representasi  mental mental arti kata dalam memori.
Membaca adalah suatu proses yang berkembang sejak manusia lahir, dari tidak menguasi sampai menguasai dan memahami. Sebelum menguasai dan memahami, ada tahp-tahap awal yang dilalui anak sepanjang mereka belajar membaca ( Moats dalam Lerner, 2000), yakni sebagai berikut:
a.       Logografhic reading. Pada tahap ini, anak mulai mengenali kosa kata yang terbatas dari seluruh kata melalui isyarat yang tidak disengaja misalnya sebuah logo, gambar, warna atau bentuk.
b.      Early alphabetic reading, untuk dapat berkembang dalam membaca, nak perlu memahami wawasan dari tulisan alfabet untuk menulis kata-kata. Sebagai contoh anak mungkin menulis PTZU untuk pizza.
c.       Mature alphabetic raeding, pada tahap ini, anak mengetahui asosiasi pengejaan dengan suaranya, nak juga dapat menggunakannya pada kata-kata yang sederhana.
d.      Orthographic stage: Recognizing syllables and morphemes. Pada tahap ini, anak menggunakan analogi kata yang diketahui sebelumnya untuk membaca kata yang baru (misalnya “perang, “serang”)
e.       Gaining ifluency. Fluency terjadi ketika anak mulai membaca dengan mudahnya dalam bekerja membaca materi.

Tahap awal belajar membaca di atas kemudian akan berlanjut pada tahap penguasaan dalam membaca. Menurut Chall ( dalam Santrock, 2008) ada enam tahap perkembangan keahlian dalam membaca, dalam tahap ini ada batasan usia namun itu bersifat tidak kaku dan tidak berlaku untuk setiap anak, misalnya ada beberapa anak belajar membaca sebelum mereka masuk ke kelas satu. Meskipun demikian, tahap-tahap perkembangan membaca yang dikemukakan oleh Cahall ini mencoba memberikan pemahaman umum tentang perubahan dan perkembangan dalam proses belajar membaca. Tahap-tahap dalam perkembangan membaca menurut J. Chall (Lerner, 2000; Santrock, 2008) adalah:

a.       Tahap pertama, tahap ini disebut early literacy atau  pre-reading. Tahap ini dimulai dari usia di bawah kelas satu sekolah dasar. Anak sudah menguasai  cara dan aturan membaca, cara mengidentifikasi huruf, dan cara menulis namanya sendiri ataupun orang lain.
b.      Tahap kedua, tahap ini disebut decoding, tahap ini dimuali dari kelas satu hingga kelas dua sekolah dasar. Anak mulai belajar membaca. Mereka belajar mengucapkan kata-kata, yakni dengan menyuarakan huruf atau sekelompok huruf yang kemudian membentuk ucapan kata.
c.       Tahap ketiga, tahap ini disebut fluence, di kelas dua dan tiga anak makin lancar dalam membaca. Dapat mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan pada tahap pertama dan kedua. Pada tahap ini membaca masih belum banyak digunakan untuk belajar, anak masih disibukkan dengan tugas membaca saja tanpa memahami isi bacaan.
d.      Tahap keempat, di kelas empat sampai delapan, anak dapat menggunakan sebagai sebuah alat untuk belajar informasi, ide, sikap dan nilai-nilai yang baru. Anak sudah berkembang dalam pengetahuan yang melatarbelakangi bacaan, arti kosa kata dan kemampuan kognitif,namun anak masih mengalami kesuliatan dalam memahami informasi yang diberikan dari beragam prespektif dalam teks bacaan yang sama. Untuk anak pada tahap ini yang belum mampu belajar membaca akan mengalami kesulitan serius dalam bidang akademis.
e.      Tahap kelima, di sekolah menengah atas, banyak siswa-siawi yang telah menjadi pembaca yang kompeten. Dapat membaca dan memahami materi tertulis yang levih komplek dari berbagai prespektif dan tingkat pemahaman, baik itu yang berbentuk naratif maupun ekspositori. Hal ini membuat mereka dapat terlibat dalam diskusi yang lebih maju dalam pelajaran sastra, sejarah, ekonomi dan politik.
f.        Tahap keenam, tahap ini disebut construction and reconstruction. Masa ini adalah masa kuliah dan seterusnya. Membaca sudah dianggap menjadi kebutyuhan pribadi dan untuk tujuan masing-masing dan untuk tujuan mengintegrasikan pengetahuan seseorang dengan orang yang lain dan untuk menciptakan pengetahuan baru.
g.       Tahap perkembangan membaca di atas  bukan dicapai secara otomatis namun perlu dibantu dan diajarkan. Proses pengajaran membaca dibagi menjadi dua bagian, yakni word recognition dan reading comprehension (Lerned, 2000). Word recognition adalah kemampuan dalam mengenal kata dan belajar untuk memahami kata-kata yang tidak diketahui dengan melakukan decoding pada kata-kata yang tercetak, mencocokkan tulisannya, kata dengan suaranya. Reading comprehension artinya memahami apa arti bacaan yang dibaca. Diperlukan pengenalan kata untuk memahami bacaan apa yang dibaca. Kedua ketrampilan ini perlu dipelajari agar fungsi sebagai seorang pembaca dapat berjalan.
Membaca membutuhkan kemampuan mengenali kata (Word recognition), membaca juga perlu pemahaman (Lerner, 2000). Untuk memahami bacaan sebelumnya bukan pengenalan kata, namun ada kemampuan yang menjembataninya, yakni fluency.
2.3 Fluency dan Pemahaman Membaca Anak Disleksia
            Anak disleksia memiliki kecerdasan rata-rata bahkan ada yang di atas rata-rata. Artinya anak-anak disleksia tidak mengalami kesulitan dalam proses belajar membaca, tapi pada kenyataanya meskipun cerdas dan kemampuan berbicara cukup lancar, anak disleksia mengalami kesulitan dalam belajar membaca. Tingkat kemampuan membaca, menulis, ekpresif dan mengejanya berada di bawah rata-rata anak-anak seusianya.
            Anak disleksia juga mengalami masalah dalam pemahaman, padahal tujuan akhir dari proses membaca adalah dapaat memahami apa yang dibaca dan terlebih harus memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi dari bacaan yang tercetak (Lerner, 2000). Sebelum memahami bacaan anak perlu mengenal kata-kata yang ada, lalu ada kemampuan menjembatani menuju kepada pemahaman membaca, yakni fluency.
            Fluency dalam membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali kata dengan cepat, membaca kalimat dan bacaan yang lebih panjang dengan cara yang mudah yang kemudian mengindikasikan pada pemahaman materi (reading comprehesion) (Lerner, 2000). Definisi ini didukung oleh LaBerge & Samuels (dalam Cutting et al, 2009) bahwa a fluency adalah elemen yang sangat penting dalam pemahaman membaca. Definisi lain yang mendukung  juga bahwa reading fluency adalah kemampuan mengidentifikasi kata yang tertulis dengan cepat dan akurat (Perfetti dalam Walczyk & Griffith-Ross, 2007). Akhir-akhir ini, reading fluency sedang diusahakan oleh para guru untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan pemahamn dalam membaca (Fuchs, Fuchs, Hosp, & jenkins dalam Walckzyk & Griffith-Ross, 2007).
            Fluency biasanya dioperasionalisasikan dengan “membaca kata dengan cepat” (Cutting et al, 2009). Fluency juga didefinisikan melalui tiga varibel yakni penamaan tulisan, identifikasi kata keseluruhaan dan pemahana bacaan (Katzir et al, 2006). Fluency dapat dievaluasi dan dinilai dengan tingkatan yang berbeda, baik itu kata, sintaksis dan bacaan (Cutting et al, 2009).
            Menurut beberapa penelitian pada anak kesulitan membaca, dapat melakukan evaluasi fluency sebagai indikator pemahaman membaca dengan kata-kata atau bacaan yang kontekstual ataupun isoleted. Kedua pendekatan ini sangat penting namun peran bacaan kontekstual ditemukan berhubungan erat dengan pemahamn membaca. 

Jumat, 03 Januari 2014

DEKONTRUKSI FEMINIS


Permasalahan ekonomi, pendidikan, sosial budaya, bahkan hingga tema khusus yang lainya tampaknya sudah menjadi makan kita sehari-hari bahkan tema-tema yang berkaitan dengan perempuan dan ketidakadilan merupkan tema multidisiplin yang menarik untuk dibahas, isunya bahkan telah merambah hingga pada ide-ide pembongkaran kembali terutama karena tema perempuan dan ketidakadilan kental dan memiliki korelasi erat dengan perspektif feminis, perspektif yang mengusung semangat dekontruksi atas persoalan seks dan gender.
Ide Ferdinand de Saususure tentang oposisi biner misalnya, telah dipakai dalam struktur-struktur kesadaran pengetahuan. Oposisi biner tersebut telah membagi dunia dalam dua kategori, konsep siapa yang benar dan salah, lebih baik atau lebih buruk. Oposisi yang merupakan struktur tak disadari ini merugikan dalam dua hubungan tersebut, sebab akan ada dualitas masyarakat atau pemahaman yang saling menindas, yang kemudian secara tidak langsung memunculkan istilah primordialisasi dan sektarianisasi kelompok. 
Oposisi itu lambat laun terproduksi menjadi mitos yang dibenarkan. Oposisi laki-laki dan perempuan misalnya merupakan contoh kecil dari kolonialisme dalam ruang privat yang mewakili dua kutup, dualitas yang memunculkan konsep siapa yang berhak menindas dan siapa saja yang boleh ditindas. Masyarakat kita seolah terjebak dalam oposisi biner yang dikorelasikan dengan kekuasaan, oposisi kaum minoritas/mayoritas, pusat/pinggiran, global/lokal, batas-batas teritorial yang menentukan ‘siapa kita’ dan ‘siapa mereka’.
Dikotomi ini justru mengandung unsur hierarki dan oposisional yang menindas, karena itu mewakili dua kutub yang kontras, sama halnya dengan kontriuksi kolonialisme yang telah menindas kelompok-kelompok marjinal. Kolonialisme sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai penjajah dan yang terjajah, namun juga jenis-jenis penjajahan baru seperti dalam bangunan wacana, pengetahuan, atau bahkan bahasa, bahwa dikotomi merupakan simplikasi atau doktrin yang menyesatkan.

Aini Machmudah
Sastra Jawa 2011