Pages

Kamis, 13 Desember 2012

PEMIRA 2012, PESTA DEMOKRASI RAKYAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


Riuh pesta demokrasi Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Negeri Semarang berkumandang di setiap Tempat Pemungutan Suara di berbagai fakultas kamis (13/12/2012). Pemilihan Raya  yang dilaksanakan serentak untuk memilih Presiden Mahasiswa dan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) tersebut berlangsung mulai jam 09.00 hingga 15.30 WIB. Dua kandidat Presiden Mahasiswa, Machmud Cahyono dan Khoirul Amin yang masing-masing berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Fakultas Ilmu Sosial serta beberapa calon Dewan Perwakilan Mahasiswa masing-masing fakultas disodorkan untuk dipilih oleh dan kemudian akan mengemban amanat besar menjadi orang berpegaruh untuk periode 2013 mendatang.
            “Pemilu Raya ini merupakan wujud penerapan pesta rakyat yang akan menampung setidaknya 9.000 suara dari total mahasiswa aktif yang ada di Universitas Negeri Semarang”, ungkap Fitri Febrianti salah seorang panitia pemilihan umum yang ditemui diselah-selah kegiatanya. Menurutnya Pemira tahun ini tak jauh beda dengan pemira tahun lalu yang sama-sama menggunakan sistem online namun pada tahun ini prosedur yang diterapakan lebih diperketat mengingingat pengalaman pemira tahun lalu yang terindikasi kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
            Namun sayangnya,  pemira 2012 yang telah dipersiapkan para Panitia jauh berbulan-bulan yang lalu terkendala oleh sistem online yang mengalami troble  tak terduga dan mengganggu jalannya pemungutan suara hingga jadwal pemungutan yang seharusnya dimulai jam 08.00 Wib terpaksa diundur 60 menit dari random acara yang telah disusun sebelumnya. Gangguan sistem ini menyebabkan antrian panjang diberbagai TPS dan tak hayal membuat beberapa mahasiswa memilih untuk golput. “Saya tidak memilih, karena tadi saat berada di TPS sistemya error” ungkap seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi yang tidak mau disebutkan namanya.
            “Negara kita kan menganut sistem politik demokrasi luber jurdil, jadi itu  hak mereka jika seumpama meraka tidak memilih, dan juga sebenarnya golput itu tergolong dalam tiga macam, golput karena sistem, golput karena takut jika memilih pilihanya tak tepat, dan golput karena ideologi yang apatis, dan sekarang tergantung alasan mana yang dipergunakan mahasiswa tersebut” ungkap Fitri saat dimintai tanggapan mengenai beberapa mahasiswa yang golput.
            Hasil pemilihan ini akan diumumkan malamnya pukul 18.30 WIB di lantai 1 Gedung H Rektor UNNES. Siapapun yang berhasil memenangkan pemilu raya ini diharapkan benar-benar mampu menjadi orang-orang pembawa progres yang membawa angin baru yang lebih segar bagi Universitas Negeri Semarang menjadi.

Stright News pertamaku
Aini Machmudah
13 Desember 2012



Lilin kecil



Aini Machmudah
Ia diciptakan berdiri
Lewat sumbu tegak yang diitarri
Berroh putih bukan kafan namun agni
 Siap menawarkan diri dikorbankan
Tanda bakti diri 

            Ia memang berwujut putih, dicitra
            Bukan hitam atau merah menganga
            Karena inti hidupnya membantu manusia
            Mengitari lorong tanpa cahaya
            Labirin waktu penikmat masa
            Dalam deret dan jenjang krusial   
     
lilin kecil
rela berkorban membakar diri
mengorbankan tubuhnya hanya untuk mengabdi


Semarang, 7 Desember 2012

Serat, Babad dan Suluk


1.    Serat
a.    Serat Sastra Gendhing
Serat Sastra Ganding diciptakan oleh Kanjeng Sultan Agung. Beliau adalah raja Mataram yang termasyur sebagia negarawan dan budayawan. Serat Sastra Gendhing berisikan tentang garis-garis rumusan pemecahan problem-problem sosial yang pada masa itu. Sultan Agung meninggalkan karya tulis seperti itu, yang merupakan momentum kultural, yang amat berharga. Beberapa warisan spiritual seperti:
1.      Serat Sastra Gendhing merupakan karya sastra yang  mengajarkan jiwa persatuan dan kesatuan (monodualistis) sebagai pola dasar dalam pemecahan yang menyeluruh atas masalah-masalah kehidupan yang dipadukan dengan realitas sosial masyarakat pada zaman itu.
2.      Dalam Serat Sastra Gendhing untuk kehidupan pribadi perseorangan, diajarkan monodualis yang disatukan menjadi kesatuan utuh sebagai warisan spiritual luhur, meliputi:
·         Jiwa dan raga
·         Dzat dan sifat
·         Kemampuan (potensiil) dan cita-cita (idiil)
·         Makna kehidupan dan irama Kehidupan
·         Ajaran (teoritis) dan pelaksanaan (praktis)
·         Agama dan ilmu (hakikat dan syariat)
3.      Dalam kehidupan sosial bermasyarakat Sastra Gendhing mengajarkan ikatan kesatuan mulai dari keluarga  yang harus dikukuhkan dengan landasan filosofi, mistis dan relegius. Sedangkan untuk konteks kemasyarakatan diajarkan jiwa persatuan kesatuan antara sosial dengan kebebasan pribadi, semisal lautan dengan ikannya.  
4.      Dari segi kenegaraan Serat Sastra Gendhing mengajarkan persatuan dan kesatuan antara pemimpin dan rakyat, seperti semboyan yang diucapkan Ki Hajar Dewantara ”Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”
5.      Mengajarkan metode mawas diri yaitu subjek yang bercermin pada penilaian objektif orang lain.
b.      Serat Wulangreh merupakan karya sastra berbentuk tembang hasil buah karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Naskah ini diawali dengan puji-pujian kepada tuhan.secara singkat, wulangreh berisi tentang piwulang atau ajaran kepada para putranya agar senantiasa melatih jiwa dan pikiran. Keseliruhan dari hal itu dapat dilaksanakan melalui latiha-latihan fisik dengan sungguh-sungguh, seperti mengurangi makan tidur, olah keprajuritan, dan menjauhi tindakan bersenag-senang . Dianjurkan pula untuk menuntut ilmu dan melaksanakan hukum agama dengan benar.
c.       Serat Wedhatama adalah sebuah karya sastra Jawa baru yang secara formal dinyatakan ditulis oleh Magkunegara IV. Serat Wedhatama ini digolongkan sebagai karya moralitas-didaktis yang terpengaruh dengan islam. Bentuknya adalah tembang yang biasa dipakai pada masa itu. Terdiri dari 100 pupuh yang terbagi menjadi lima lagu yaitu: Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh dan Kinanthi. Serat Wedhatama berisi keterangan tentang pentingnya menimba ilmu demi peningkatan diri, mulai dari bekal yang harus dimiliki sampai dengan kewajiban yang hendaknya dilakukan sebagai seorang murid. Dengan demikian Serat Wedhatama secara keseluruhan membahas ajaran kewajiban menuntut ilmu, falsafah hidup, seperti tenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi seorang yang berwatak kasatria.
d.      Serat Wulang Estri merupakan karya sastra kelanjutan dari ajaran Paku Buwana IV yang ditujukan bagi putrinya, yaitu berupa ajaran berumah tangga. Didalamnya dijelaskan bahwa berumah tangga bukanlah hal yang mudah dijelaskan pula bahwa sarana orang berumah tangga bukanlah harta atau rupa, melaikan ‘eling’. Dalam menyampaikan ajaran ini digunakan kisah seorang raja cina dan Ternate. Pada bagian akhir disebutkan pula alasan seseorang disebut perempuan serta pengkategorian perempuan yang baik dan yang buruk.
e.       Serat Wedaraga merupakan salah satu karya sastra berbentuk tembang macapat karangan R. Ng. Ranggawarsita yang merupakan sebuah petuah kebaikan atau petuah tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan badani kita, isi nasihatnya berupa wejangan kepada anak muda jangan sampai mengikuti kehendak diri atau mengobral kesanggupan, karena setiap tindakan dan perbuatan harus diperhitungkan secara masak. Didalam serat ini diajarkan pula agar seseorang bersedia melatih fisik dan pikiran, serta mengontrol diri dengan mengurangi nafsu menyestakan yang terdapat dalam jiwa.
f.       Serat Nitisastra karya Raden Ngabehi Yasadipura II adalah salah satu karya sastra Jawa yang berisi piwulang atau ajaran budi pekerti. Teks diawali dengan keterangan bahwa orang yang tidak tahu tata krama merupakan orang yang sangat bodoh. Yang kemudian dilanjutkan tentang sama, beda, dana dan dhendha.  Banyak sekali nasihat yang termuat dalam teks ini, diantara ajaran tentang tata krama, keagamaan, pergaulan, dan teladan perbuatan baik. Apa yang ada dalam Serat Nitisastra secara tersurat maupun tersirat merupakan pesan-pesan moral yang patut diketahui, diamalkan, dan diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Simpulan:
Dari contoh-contoh Serat beserta penjelasannnya dapat diambil simpulan bahwa Serat merupakan jenis karya sastra yang mengandung piwulang atau Pitutur kearah kebaikan dan kebijakan antara lain tentang etika atau moral, tatacara dan atau upacara tradisi tertentu, sikap dan sifat-sifat seseorang dalam mengabdi pada raja penguasa , orang tua dan sebagainya.
Babad
a.       Babad Giyanti adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura. Babad ini mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa politik yang terjadi dijawa yaitu mengenai pembagian kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Menurut Poerbatjaraka (1958: 145) Babad Giyanti ini bahasanya sangat hidup dan pelukisan masing-masing tokohnya juga hidup sekali. Ricklefs (1955: 84) menyatakan bahwa Babad Giyanti merupakan dokumen yang teliti yang mencakup kurun waktu antara tahun 1746 sampai 1760. Pembagian kerajaan Mataram menjadi dua itu tampoak terasa hingga sekarang dengan adanya dikotomi  antara gaya Surakarta dengan gaya Yogyakarta.
b.      Babad kartasura merupakan salah satu karya sastra berbentuk macapat, sekar tengahan yang mengkisahkan tentang kelalaian Patih Sindureja dalam pengabdiannya kepada raja karena ia terlibat dalam permasalahan anaknya Raden Sukra. Kisah dalam babad ini dilanjutkan dengan cerita tentang Raden Ajeng Sasi, Raden Ayu kedhaton, dan Raden Ayu Impun.
c.       Babad Sengkala Merupakan babad berbentuk prosa (aksara jawa) yang  mengisahkan tentang kedatangan orang hindu yang menempati wilayah-wilayah pedalaman, seperti kalimantan dan Papua. Teks dilanjutkan dengan cerita tentang orang Arab dalam menyebarkan Agama islam. Didalaamnya juga terdapaat kisah tentang kunjungan Raden  Patah ke Gunungjati dikediaman Ibnu Maulana, dan Pembukaan wilayah Cirebon oleh Raden Patah. 
d.      Babad Surapati Naskah ini menceriritakan kisah untung surapati, seorang pengelana yang mengabdi dikartasura. Karena jasanya dalam menumpas keributan dibanyumas, surapati kemudian memperoleh kehormatan dan kedudukan tinggi. Selanjutnya, diceritakan penghianatan dan pemberontakan Surapati terhadap kartasura yang menyebabkan peperangan Trunajaya. Naskah ini diakhiri dengan kisah pertemuan Raden Sukra putra Adipati Sindureja dengan Raden Ayu Lembah.
e.       Babad Damarwulan ditulis dengan aksara jawa yang mengisahkan tentang kehidupan raja majapahit, brawijaya yang adil dan bijaksana,  kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang kencanawungu putri Brawijaya yang menggantikannya sebagai raja majapahit, akan tetapi memperoleh tentangan dari Menakjingga, sampai akhirnya damarwulan (suami kencanawungu) berhasil mengalahkan menak supena karena mendapat bantuan dari Ki ajeng Tunggul menik. Naskah ini diakhiri dengan kebaktian lima istri Damarwulan kepada Ki Ajar Tunggal Manik.
f.       Babad demak secara singkat berisi tentang perjalanan Raden Sahid, putra Adipati Tuban yang menjadi berandal hingga bertemu dengan sunan bonang yang membuatnya bertobad lalu berguru kepada Sunan Bonang hingga dberganti nama menjadi Sunan Kalijaga. Selain mengisahkan tentang Sunan kalijaga, babad Demak ini juga membahas mengenai Jaka Tarub bersama Dewi Nawangwulan, cerita tentang Ki Getes Pandhawa yang kemudian bernama   
Simpulan :
Dari penjelasan beberapa contoh babad dapat diambil simpulan bahwa Babad adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi tentang sejarah lokal yang berhubungan dengan nama tempat, daerah, nama kerajaan, nama suatu kejadian atau peristiwa yang monumental, atau berhubungan nama tokoh besar tertentu. Penulisan babad umumnya berada dilingkungan kraton dengan rajanya selaku penguasa daerah yang bersangkutan, sehingga babad sendiri cenderung bersifat subjektif karena berisi legitimasi kekuasan para raja atau penguasa.

Suluk
a.       Suluk Seh Takawardi merupakan karya sastra jawa baru yang berisi mengenai ajaran Seh Tekawardi, seoarang pendeta Gunung Maligeretna di Negara Garbasumandha. Pada suatu hari ia memberikan wejangan kepada anak cucu dan penduduk Garbasumandha. Ajarannya antara lain berisi: definisi tentang orang tua dan orang muda, hal-hal yang sebaiknya dilakukan disaat muda, serta arti hidup didunia. Selain itu diajarkan pula tentang sikap dan sifat yang harus dilakukan pada saat mengabdi pada raja.
b.      Suluk Malang Sumirang adalah salah satu karya sastra islam yang merupakan ajaran Sunan Panggung dari Kesultanan Demak. Ajaran ini berupa kritik atau sindiran kepada para ahli Sariat. Selanjutnya Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar hidup-hidupsebab dianggap menyebarkan agama sesat. Menurut Drewes (1977: 97) ketegangan pada Suluk Malang Sumirang berkaitan dengan teks-teks agama yang penuh dengan intrertable dan debatable.
c.       Suluk Wujil merupakan suluk karya Sunan Bonang ysng mengkisahkan tentang Wujil seorang bekas aktor dan pelawak diistana Majapahit yang terpelajar,dalam suluknya setelah 10 tahun berguru kepada sunan Bonang, dan mempelajari agama serta sastra Arab secara mendalam,dan akhirnya ia merasa jemu dan sia-sia. Jiwanya merasa kering kerontang dan gelisah, hatinya menjerit dan kebingungan. Tidak tega melihat penderitaan muridnya, Sunan Bonang akhirnya mengajarkan tasawuf, khususnya jalan mengenai hakikat diri yang merupakan sumber kebahagian.
Simpulan :
Dari penjelasan tentang beberapa contoh Suluk tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Suluk adalah karangan yang banyak muncul pada zaman islam dengan corak utama yaitu mengajarkan tentang tasawuh  yang ditulis dalam bentuk puisi atau tembang .Jenis sastra suluk ini berisi tentang ajaran untuk menuju kesempurnaan hidup bagi manusia.
Sumber : Saktimulya, Sri Ratna. 2005. Katalog Naskah-naskah Perpustakaan     Pura Pakualaman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia- The Toyota Foundation.
               Purwadi. 2008. Sejarah Sastra Jawa Klasik. Yogyakarta: Panji Pustaka
               Widayat, Efendy. 2011. Teori Sastra Jawa. Yogyakarta: Kanwa Publisher
2.    Karakteristik serat, babad, dan suluk
·         Karakteristik serat
1.      Serat berisi tentang ajaran atau Piwulang dan pitutur kearah kebaikan dan kebajikan.
2.      Didalam serat berisi tuntunan agung yang dapat dijadikan seabagai pedoman dan suri tauladan bagi manusia.
3.      Serat menganduing makna moralitas yang berkenaan dengan dengan etika hidup.

·       Karakteristik Babad

1.    Babad berisi tentang sejarah lokal yang berhubungan dengan nama tempat, daerah, kerajaan maupun tokoh besar (historis)
2.    Babad bersifat lokal yang ditulis dengan cara pandang tradisional, sehingga sering dibumbui dengan berbagai hal yang bersifat pralogis atau bahkan bersifat fiktif dan simbolik.
3.    Babad bersifat istana centris karena pada umumnya ditulis pada lingkungan kraton dengan raja selaku penguasa daerah yang bersangkutan , atau lingkungn bangsawan yang lebih kecil.
4.    Pada umumnya babad ditulis dengan tujuan: (a) mencatat segala peristiwa, kejadian, atau pengalaman yang pernah terjadi pada masa lampau. (b) untuk menjadi teladan yang baik agar dapat diambil manfaatnya. (c) untuk memperkuat sakti raja.(Sedyawati, ed. 2001: 267)
5.    Babad bersifat subjektif karena kebanyakan penulisnya berasal dari latar belakang, kecenderunga, dan pendiriannya yang ditentukan oleh pengalaman, situasi, dan kondisi hidupnya pada sebagai manusia sosial budaya pada masa dan masyarakat tertentu (Teeuw, 1988)
6.    Babad bersifat fragmentatif artinya bahwa fakta-fakta yang ditampilkan dalam babad tidaklah lengkap.
7.    Babad menekankan pada pengagungan leluhur maupun raja, yang menekankan pada pengukuhan legitimasi sebagai catatan sejarah bagi kepentingan penguasa dan keturunanya.
8.    Babad bersifat sugestif  artinya bahwa babad dapat mempengaruhi pandangan seseorang.

·       Karakteristik Suluk
1.      Suluk kental dengan ajaran agama islam.
2.      Suluk sering kali dihubungkan dengan ajaran-ajaran tasawuf  yang kemudian dimaknai dengn pengembaraan atau perjalanan dalam rangk mencari makna hidup.
3.      Suluk sering dianalogikan dengan kata ‘yen sinusul muluk’ yang berarti kalau dikejar semakin membumbung tinggi. Maksutnya, keilmuan suluk, bila semakin dipikirkan akan semakin jauh untuk dijangkau pikiran atau logika awam.
4.      Permasalahan yang sering diangkat dalam suluk berhubungan erat dengan hal-hal ghaib yakni hal-hal supranatural yang yang hubungannya dengan Tuhan dan kehidupan manusia.
5.      Suluk memiliki struktur yang tidak mudah difahami maknanya atau relatif membingungkan, terutama bagi yang tidak bisa menggelutinya.
6.      Sastra suluk umumnya ditulis dalam bentuk tembang (macapat) namun juga ada yang berbentuk prosa. 
Sumber: Widayat, Efendy. 2011. Teori Sastra Jawa. Yogyakarta: Kanwa Publisher